Tugas Siskomdig - Desa tradisional Penji

Nama : Andin Dio Prakosa Perdana

Kelas : X TKRO 1

No absen : 19



Desa Tradisional Penji


Disebuah desa tradisional hidup seorang gadis remaja bernama Penji. Dia hidup bersama kakek dan neneknya. Desa tempat Penji tinggal sangat indah, terletak di dataran tinggi dan berada diantara bukit-bukit yang hijau. Ditengah-tengah desa dialiri sungai yang airnya begitu jernih sehingga membuat tanah di desa tersebut sangat subur. Karena tanahnya subur, mayoritas penduduknya adalah petani. Begitu pula dengan kakek dan nenek Penji.


Desa Penji juga tak jarang didatangi oleh turis asing yang ingin melihat keindahan desa tersebut. Mereka bahkan juga menginap di penginapan setempat. Hal itu pun membuat Penji bangga tinggal di desanya.


Suatu pagi penji pergi ke kebun bersama kakeknya untuk memanen kentang. Kebun tersebut terletak di lereng bukit seberang sungai, namun tidak jauh dari rumah Penji. Kakeknya mencangkul kentang untuk mengeluarkannya dari dalam tanah, sedangkan penji bertugas mengambil dan memasukannya kedalam keranjang. Setelah selesai, mereka pun kembali ke rumah.


Satu pekan setelah panen kentang, mereka kembali ke kebun untuk memanen sawi. Namun saat mereka melewati sungai mereka kaget karena sungai tersebut airnya kering. Perasaan mereka jadi tidak enak setelahnya. Ternyata benar, saat sampai kebun mereka melihat tanahnya begitu kering dan semua tanamannya layu. Mereka pun tak habis pikir dan pulang ke rumah.


Malamnya saat Penji tidur dia bermimpi ada seorang lansia dengan jenggot putih panjang di kebun kakeknya. Ia pun menghampiri lansia tersebut dan berkata "Permisi kakek kalau anda tahu apa penyebab kebun kakekku kering seperti ini?". Lansia tersebut menjawab "Hal ini disebabkan karena alam murka terhadap para turis asing disini. Mereka kerap membuang sampah sembarangan dan suka membuat kegaduhan.". Lantas Penji terbangun dan menceritakan mimpi tersebut kepada kakeknya. 


Esoknya kakek Penji mengajak tetangga sekitar untuk melakukan kerja bakti. Mereka pergi ke hulu sungai untuk membersihkan sampah yang menyumbat sungai tersebut. Ternyata benar, mereka melihat sekelompok turis sedang berjalan-jalan disekitar hulu sungai dengan gaduh. Spontan kakek Penji menegur sekelompok turis tersebut dan menasehati agar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Lalu mereka mengerti dan ikut membersihkan sungai.


Sebulan setelah kejadian itu, kebun-kebun di desa Penji kembali subur dan hasil panennya melimpah. Turis asing juga sudah sadar dan membuang sampah pada tempatnya. Mereka pun hidup berdampingan dengan damai selamanya.

Komentar